Skip to main content

Posts

Featured

The Medium and The Choice

  Menjadi ibu adalah spektrum yang luas. Bagi sebagian perempuan, menjadi ibu bukan hanya sekadar fungsi biologis yang selesai setelah persalinan. Ia adalah kontrak kerelaan seumur hidup untuk menjadikan tubuh dan jiwa kita sebagai medium, sebuah jembatan bagi nyawa lain untuk menyeberang ke dunia.  Namun, ada jenis ibu lain yang perannya tidak lahir dari rahim, melainkan dari sebuah pilihan sadar yang tak kalah hebatnya. Tidak butuh kesamaan kromosom untuk bisa berserah sepenuhnya pada peran ini; cinta yang lahir dari pilihan, bukan sekadar warisan biologis. Di sana, peran "medium" tidak terjadi di ruang persalinan, melainkan di ruang-ruang harian. Pada setiap suapan makanan, pada setiap pelukan saat ia ketakutan, dan pada setiap doa yang dipanjatkan tanpa henti. Mereka adalah ibu yang rahimnya mungkin tidak pernah meregang, namun hatinya mampu menampung seluruh beban dunia demi anak yang tidak berbagi setetes pun DNA dengannya. Pada akhirnya, esensinya tetap sama: tak semua...

Latest Posts

Antara Paspor, Akar, dan Utopia: Why I'm Still Here?

Brain Rot: Scroll Now, Think Later

Remembering in Pieces: Fragmen-fragmen Masa Kecil

I AM ME: As I Am

Hidup, titik.

The Before Trilogy: Across Sunrise, Sunset and Midnight

Marriage: Rewritten

Travelling: Out of Itineraries

Van Gogh vs Beeple: Dari Kanvas ke Blockchain

What 42 Taught Me (So Far)